Tuesday, August 24, 2004

Peta Hijau Jalan-jalan Terbaik

oleh: Joni Faisal

DALAM kategori The Green Map System (GMS), atau sistem pemetaan yangmenginformasikan sumber daya lingkungan dan budaya di suatu kota, terdapatkategori best walks dengan legenda dua telapak kaki, di antaranya trotoar,jalan-jalan "alami", termasuk jalan-jalan yang berdaya tarik khusus, laludirekomendasikan tim pembuat GMS sebagai best walks yang berdaya tarik. Intinya,best walks identik dengan jalur nyaman bagi pejalan kaki.Jakarta sendiri, pada Januari 2002 telah terdaftar sebagai ibu kota ke-20, sertanegara ke-156 dari seluruh dunia yang akan memiliki GMS tersebut. Saat ini,pembuatan "peta hijau" yang dipelopori Wendy Brawer pada tahun 1994 di New Yorkitu, kini sedang dimulai di kawasan Kemang dan sekitarnya di Jakarta Selatan.Sebagai suatu sistem, GMS selalu didukung partisipasi publik yang ikutmenentukan sumber daya lingkungan dan budaya mana saja yang sepatutnyadiinformasikan. Dengan demikian, publik pula yang menentukan lingkungan itu,serta dapat menolak kebijakan pemerintah yang jelas-jelas tidak mendukung upayaperbaikan lingkungan.Bagi sebuah kota, best walks merupakan sarana vital sejajar dengan fasilitasumum lainnya. Artinya, tanpa peta jalan itu, kota ibarat tanpa darah, karenapejalan kaki adalah energi yang menghidupkan kota. Jalan-jalan mulus dan aruskendaraan yang lalu lalang bukan satu-satunya dinamika yang memberikaneksistensi bahwa kota itu hadir.Jakarta barang kali hanya memiliki sedikit "jalan-jalan terbaik" itu. Namun,pada kenyataannya, best walks itu sering kali terabaikan, bahkan tidakdimanfaatkan, karena keberadaannya tidak disadari. Dengan GMS, jalan-jalanseperti itu akan terinformasikan. Sayangnya, di Jakarta, jalan-jalan yang masukkategori itu terbilang langka.Sebenarnya, secara langsung maupun tidak, manfaat best walks sangat besar bagikeleluasaan mobilitas kota. Banyaknya kendaraan pribadi yang tumpah ke jalanraya, barangkali merupakan indikasi tidak adanya jalan yang layak untuk pejalankaki. Sehingga untuk jarak yang relatif dekat pun orang lebih suka memakaimobil.Sebagai contoh, berapa banyak orang yang mau berjalan kaki dari perempatan jalanCSW di Kebayoran Baru ke Ratu Plaza di Jalan Sudirman, meski berjarak tidaksampai 1.000 meter? Atau dari CSW ke Pasar Mayestik? Padahal, jika dicoba, jarak1.000 meter relatif dekat untuk berjalan kaki. Namun, masalahnya, seberapabanyak jalan yang nyaman sepanjang itu di Jakarta?Kenyataannya, memang tidak mudah mendapatkan jalan yang nyaman bagi pejalankaki. Trotoar yang ada, banyak yang tidak memenuhi standar kenyamanan. Sementaraitu, pedagang kaki lima seolah-olah menjadi pemilik lahan trotoar denganhamparan barang dagangannya, tanpa seorang pun berani melarang.Di Jalan Sudirman misalnya, meskipun baru-baru ini terjadi penertiban, masihbanyak trotoar yang dijejali pedagang kaki lima. Walaupun di beberapa tempattampak bersih, tetapi pencegahan gerobak pedagang dengan kawat duri dan tonggakperintang di sisi trotoar cuma bikin jalur jalan itu berbahaya. Dari segiestetika pun, pencegahan seperti itu sangat tidak mencerminkan daya tarik maupunkeindahan kota.Di sisi lain, tidak sedikit jalanan yang seharusnya tempat terbaik bagi pejalankaki, harus dikorbankan untuk kepentingan tertentu. Misalnya pelebaran jalan,papan iklan yang mengganggu pemandangan, dan juga pohon perindang yang semakinmenghilang.***BEST walks yang sebenarnya memberikan peluang untuk menghemat energi, mengatasikemacetan, mengurangi beban jalan, memberikan kesehatan masyarakat, jugamemberikan kesempatan warga menikmati kotanya.Kontribusi "jalan-jalan terbaik" ini tentu saja memberikan alternatif bagipengguna jalan raya untuk berjalan kaki. Sehingga beban jalan yang digunakantidak bertambah sumpek, padat, dan menimbulkan kemacetan. Lagi pula, kebiasaanberjalan kaki-yang mulai luntur pada masyarakat kota-merupakan cara palingbersahaja untuk menuju ke suatu tempat.Dengan begitu, best walks yang apa adanya di Jakarta saat ini harus segeraditandai dalam Green Map System. Dengan demikian publik berhak menentukansendiri "jalan-jalan terbaik" mereka, dan dimanfaatkannya untuk jalur berjalankaki. Peran pemerintah di sini tinggal mengakomodasi apa yang telah wargalakukan. Artinya, jalan telah dipilih warga sebagai jalan terbaik itu, tidakserta merta dapat diganggu untuk kepentingan yang tidak bermanfaat tanpakompromi masyarakat.

* Joni Faisal, relawan "Green Mapmaker" .

Rabu, 6 Februari 2002
http://kompas.com/kompas-cetak/0202/06/METRO/peta18.htm